Jagung

Jenis dan Pembibitan Jagung

Jenis Jagung

Jagung terdiri dari tiga jenis yaitu:

  • Jagung Komposit merupakan nama lain dari jagung lokal.
    Keunggulan jenis jagung komposit ini adalah :
    1. Umur tanam jagung pendek.
    2. Jagung tahan hama penyakit.
    3. Jagung dapat ditanam secara berulang-ulang.
    4. Hasil produksinya rendah, yaitu sekitar 3-5 ton per hektar
    Beberapa jenis jagung komposit yaitu: Arjuna, Bisma, Joster, Sukma Raga, Goter, Kretek, Gajah Mas, Genjah Rante, dll.
  • Jagung Hibrida adalah jagung yang pada proses pembuatannya melalui pemuliaan dan penyilangan antara dua induk, sehingga menghasilkan jagung jenis baru yang memiliki sifat keunggulan dari kedua induknya. Keunggulan jenis jagung hibrida adalah kapasitas produksinya tinggi sekitar 8-12 ton per hektar. Jenis jagung hibrida yang beredar dipasaran adalah : Pioner, BISI, NK, DK, dll.
  • Jagung Trangenik merupakan jagung yang proses pembuatannya melalui rekayasa genetik dalam laboratorium.
    Keunggulan jenis jagung ini adalah :
    1. Kapasitas produksinya besar, yaitu sekitar 8-10 ton per hektar
    2. Tahan penyakit, tahan hama, dan tahan obat kimia.

Syarat Jagung untuk Dibibit

  1. Jagung yang akan dijadikan bibit harus berasal dari jagung yang subur serta bebas hama.
  2. Jagung berasal dari buah jagung yang kering di pohon.
  3. Jagung juga berasal dari jagung yang bunganya sudah dibuang dahulu sebelumnya.
  4. Jagung juga harus berasal dari jagung yang tongkolnya besar.

Langkah pembibitan Jagung

Pembibitan yang baik, belum tentu dapat menghasilkan produksi yang baik juga. Petani harus memperhatikan tanah dan pupuk yang digunakan dalam penanaman. Disamping itu, tanaman pengganggu seperti gulma harus dibasmi agar tidak mempengaruhi hasil panen.

  1. Jagung dipetik dan dibiarkan selama satu malam.
  2. Buka klobotnya 3 lapis untuk digantungkan di atas dapur atau di bawah atap pinggir rumah. Hindarkan jagung dari sinar matahari langsung.
  3. Setelah jagung digantung selama dua hari, kulit jagung bisa dibuka. Sebelum dipipil, ujung jagung dipotong 2,5 cm dan bagian pangkalnya dipotong sekitar 4 biji.
  4. Jagung kemudian dipipil, bibit yang baik berasal dari jagung yang deretannya lurus.
  5. Setelah dipipil, bibit biji jagung dijemur selama tiga hari, dengan lama penjemuran hanya dua jam sehari mulai pukul 08.00 - 10.00. Jika penjemuran dilakukan diatas pukul 11.00 bibit jagung akan mati kepanasan.
  6. Sebelum ditanam, bibit jagung harus direndam dalam cairan Ridomil agar bibit jagung tidak terkena penyakit bule racun. Cairan Ridomil dapat dibeli di toko pertanian. Satu kg jagung dapat dicampur dengan 5 gram Ridomil yang sudah dicampur dengan air sebanyak 3-4 sendok makan. Jika kita tidak memiliki cairan Ridomil, cairan ini dapat diganti dengan kunyit yang diparut dan dicampur air beras. Setelah proses pencampuran, bibit harus direndam selama sehari atau satu malam dengan dimasukkan ke dalam toples.


Penyiapan Lahan

Tanaman jagung memerlukan aerasi dan drainase yang baik sehingga perlu penggemburan tanah. Pada umumnya persiapan lahan untuk tanaman jagung dilakukan dengan cara dibajak sedalam 15-20 cm, kemudian dilanjutkan dengan penggaruan tanah sampai rata. Pada saat mempersiapkan lahan, sebaiknya lahan tidak terlalu basah, tetapi cukup lembab sehingga mudah dikerjakan dan tidak lengket.



Penanaman Jagung

Pada saat proses penanaman, tanah harus cukup lembab tetapi tidak becek. Jarak tanaman harus teratur agar ruang tumbuh tanaman seragam dan pemeliharaan tanaman dapat dilakukan dengan lebih mudah. Beberapa varietas jagung mempunyai populasi optimum yang berbeda. Populasi optimum dari beberapa varietas yang telah beredar di pasaran sekitar 50.000 tanaman/ha. Jagung dapat ditanam dengan menggunakan jarak tanam 100 cm x 40 cm dengan dua tanaman perlubang atau 100 cm x 20 cm dengan satu tanaman perlubang atau 75 cm x 25 cm dengan satu tanaman perlubang. Lubang dapat dibuat sedalam 3-5 cm dengan menggunakan tugal, setiap lubang dapat diisi 2-3 biji jagung. Setelah biji jagung ditanam, prose selanjutnya yaitu penutupan lubang dengan tanah.



Pemupukan Jagung

Beberapa unsur hara yang paling banyak diperlukan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Phosphor (P), dan kalium (K).

  • Nitrogen dibutuhkan tanaman jagung selama masa pertumbuhan sampai pematangan biji. Tanaman jagung menghendaki tersedianya nitrogen secara terus menerus pada semua fase pertumbuhan sampai pembentukan biji. Kekurangan nitrogen dalam tanaman walaupun pada fase permulaan akan berakibat pada menurunnya hasil.
  • Tanaman jagung membutuhkan pasokan unsur P sampai fase/stadium lanjut, khususnya saat tanaman masih muda. Gejala kekurangan phosphat akan terlihat sebelum tanaman setinggi lutut.
  • Sebagian besar unsur Kalium, diambil tanaman sejak tanaman setinggi lutut sampai selesai pembungaan


Pemeliharaan Jagung

Fase pemeliharaan dapat mempengaruhi hasil panen. Penurunan hasil yang disebabkan oleh persaingan gulma sangat beragam sesuai dengan jenis tanaman, jenis lahan, populasi, dan jenis gulma, serta faktor budidaya lainnya. Periode kritis persaingan tanaman dan gulma terjadi sejak masa tanam sampai seperempat atau sepertiga dari daur hidup tanaman tersebut. Untuk menghasilkan produksi yang tinggi, lahan jagung harus bebas dari gulma. Berikut adalah beberapa proses pemeliharaan tanaman jagung yang meliputi

  • Penyulaman dapat dilakukan melalui penyulaman bibit yang memerlukan waktu sekitar 1 minggu.
  • Penjarangan tanaman dilakukan selama kurang lebih 2-3 minggu setelah tanam. Tanaman yang sehat dan tegap perlu terus dipelihara sehingga diperoleh populasi tanaman yang diinginkan.
  • Penyiangan pertama dilakukan pada umur 15 hari setelah tanam dan perlu dijaga jangan sampai tanaman pengganggu merusak akar tanaman. Sedangkan penyiangan kedua dilakukan sekaligus dengan pembubuan yaitu saat tanaman berumur 6 minggu, bersamaan dengan waktu pemupukan.
  • Pembumbunan dilakukan bersamaan dengan penyiangan kedua untuk memperkokoh posisi batang agar tanaman tidak mudah rebah dan menutup akar yang bermunculan di atas permukaan tanah yang disebabkan oleh adanya aerasi. Tanah di sebelah kanan dan kiri barisan tanaman diuruk dengan cangkul, kemudian ditimbun di barisan tanaman, sehingga terbentuk guludan yang memanjang.
  • Pemangkasan daun jagung bertujuan untuk mengendalikan ukuran dan bentuk tanaman, mempercepat dan memperkuat pertumbuhan agar dapat meningkatkan produksi baik dari sisi kualitas maupun kuantitas. Lebih lanjut, pemangkasan daun dapat bermanfaat dalam menekan serangan penyakit daun. Pemangkasan daun dapat dilakukan saat tanaman berusia 50 hari setelah tanam. Pemangkasan daun dapat meningkatkan berat pipilan apabila pemangkasan daun dikakukan pada umur 75 hari setelah tanam.


Pengairan

Air sangat diperlukan pada saat penanaman, pembungaan (45-55 hari sesudah tanam) dan pengisian biji (60-80 hari setelah tanam). Pada masa pertumbuhan kebutuhan air tidak terlalu tinggi dibandingkan dengan waktu berbunga yang membutuhkan air paling banyak. Pada masa berbunga, waktu hujan pendek diselingi dengan matahari jauh lebih baik dari pada hujan terus menerus.

Pengairan sangat bermanfaat untuk mencegah tanaman jagung agar tidak layu. Pengairan yang terlambat dapat mengakibatkan daun menjadi layu. Pengairan juga dapat dilakukan dengan mengalirkan air melalui parit diantara barisan jagung atau menggunakan pompa air bila kesulitan air.



Penyakit Dan Hama

Tanaman jagung terdiri atas akar, batang, daun, bunga, dan biji. Beberapa jenis hama dan penyakit tanaman jagung yang sering merusak dan menggangu pertumbuhan jagung dan mempengaruhi produktivitas antara lain :

  1. Hama tanaman jagung yang meliputi: hama lundi, lalat bibit, ulat tanah, ulat daun, penggerek batang, ulat tentara, dan ulat tongkol.
  2. Penyakit tanaman jagung yang terdiri dari: bulai, cendawan, bercak ungu, dan karat.

Untuk mencegah terjadinya serangan hama dan penyakit pada tanaman jagung beberapa hal yang dapat dilakukan meliputi:

  1. Penggunaan varietas bibit yang resisten
  2. Penggunaan teknik-teknik agronomi
  3. Penggunaan desinfektan pada benih yang akan ditanam
  4. Pemeliharaan tanaman


Panen Jagung

Masa panen jagung di pengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: jenis varietas yang ditanam, ketinggian lahan, cuaca, dan derajat masak. Umur panen jagung umumnya sudah cukup masak dan siap dipanen pada umur 7 minggu setelah berbunga. Pemanenan dilakukan apabila jagung cukup tua yaitu bila kulit jagung sudah kuning. Pemeriksaan dikebun dapat dilakukan dengan menekankan kuku ibu jari pada bijinya, bila tidak membekas jagung dapat segera dipanen. Jagung yang dipanen prematur butirannya keriput dan setelah dikeringkan akan menghasilkan butir pecah atau butirnya rusak setelah proses pemipilan. Apabila jagung dipanen lewat waktunya, hal ini dapat menyebabkan banyak butiran jagung yang rusak. Pemanenan sebaiknya dilakukan saat tidak turun hujan sehingga pengeringan dapat segera dilakukan. Umumya jagung dipanen dalam keadaan tongkol berkelobot (berkulit).



Pasca Panen Jagung

Penanganan pasca panen jagung merupakan semua kegiatan yang dilakukan sejak jagung dipanen sampai dipasarkan kepada konsumen, yang meliputi: pemanenan, pengangkutan, pengeringan, penundaan, perontokan dan penyimpanan. Kegiatan penanganan pasca panen pada umumnya dilakukan oleh petani, kelompok tani, koperasi, dan para pedagang pengumpul serta didukung oleh berbagai lembaga dalam masyarakat. Penanganan pasca panen dapat dilakukan dengan cara pengeringan. Pada umumnya proses pengeringan dilakukan dengan menghamparkan jagung dibawah terik matahari menggunakan alas tikar atau terpal. Pada waktu cerah penjemuran dapat dilakukan selama 3-4 hari. Pengeringan juga dapat dilakukan dengan menggunakan mesin grain dryer. Setelah jagung dikeringkan, kemudian jagung dipipil, untuk selanjutnya segera dijemur kembali sampai kering konstan (kadar air kurang lebih 12%) agar dapat disimpan dalam waktu lama, biasanya memerlukan waktu penjemuran 60 jam dibawah sinar matahari. Jenis pengolahan jagung ada dua macam yaitu :

  • Pengolahan basah (wet process): pengolahan jagung yang dilakukan dengan merendam jagung terlebih dahulu di dalam air sehingga menghancurkannya lebih mudah, dan setelah itu dikeringkan.
  • Pengolahan kering (dry process): pengolahan secara kering tanpa perendaman,biasanya menghancurkannya lebih sukar dibandingkan dengan cara basah.