Padi

Budidaya Prapanen Padi

Pembibitan Padi

Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada tahapan pembibitan:

  • Memilih bibit unggul. Bibit padi berkualitas dapat dilihat dari jumlah gabah dalam satu tangkai, kekuatan batang, dan peranakannya saat ditanam. Faktor lain pada bibit padi unggul juga dapat dilihat dari keseragaman tinggi batang.
  • Bibit yang telah dipilih untuk dijadikan benih, harus direndam dalam air selama satu atau dua hari. Gabah yang mengapung dibuang.
  • Setelah benih direndam, kemudian ditiriskan, dan selanjutnya disimpan di dalam karung atau ditumpuk secara merata di atas daun pisang.
  • Setiap empat jam, bakal benih perlu disiram untuk memudahkan tumbuhnya kecambah.
  • Setelah dua hari, gabah telah menjadi bibit yang siap untuk disemai.


Persemaian Benih

Setelah padi siap disemai, berikutnya memerlukan lahan semai. Lahan semai harus dikondisikan sebaik mungkin, agar bibit tidak hanyut terbawa air. Oleh karena itu, maka perlu dibuat sebuah petakan dengan pematang yang membatasinya dari air. Ukuran petakan harus disesuaikan dengan jumlah benih. Jika benih yang disemai terlalu rapat maka akan mengurangi efektifitas pertumbuhan benih. Beberapa bedeng yang telah diratakan permukaannya siap untuk disemai. Kecambah yang telah disemai, kemudian dibiarkan tumbuh dengan sedikit air hingga kurang lebih seminggu. Setelah tinggi tanaman padi sudah mencapai 5/6 cm, berikutnya diberi pupuk untuk mempercepat proses pertumbuhan. Setelah berumur tanaman padi berumur 3 minggu sejak disemai, batang tanaman padi sudah cukup tinggi dan kuat untuk dicabut dan ditanam kembali keseluruh lahan sawah. 



Penanaman Padi

Pada tahap ini, benih hasil persemaian siap ditanam keseluruh lahan sawah. Jarak tanam tidak boleh terlalu jarang dan tidak boleh terlalu rapat, agar pertumbuhan tanaman padi bisa maksimal. Seminggu setelah penanaman, tanaman padi harus diberi pupuk. Sebulan kemudian perlu dilakukan penyemprotan hama dan perangsang pertumbuhan. Selanjutnya penambahan pupuk dilakukan pada usia padi memasuki bulan ke tiga. Dari awal masa tanam hingga memasuki masa panen, kondisi sawah harus bebas dari hama dan gulma serta irigasinya baik.


Panen Padi

Panen yang tepat akan menentukan kualitas gabah dan beras. Panen harus dilakukan bila bulir padi sudah cukup masak. Panen yang kurang tepat dapat menurunkan kualitas gabah maupun beras.

Karakteristik padi siap panen adalah

  • 95 % gabah sudah menguning dan daun bendera telah mengering
  • Umur optimal malai 30 – 35 hari terhitung sejak hari sesudah berbunga (HSB)
  • Kadar air berkisar 21 – 26 %
  • Kerontokan gabah sekitar 16 – 30 % (Cara mengukurnya dengan meremas malai dengan tangan)


Peralatan panen padi:

  • Ani-ani
  • Sabit
  • Pedal thresher/Mesin pemanen padi seperti Reaper
  • Karung goni/sak
  • Tali


Cara panen padi tergantung kepada alat perontok yang digunakan :

  • Ani-ani : umumnya digunakan untuk memanen padi lokal yang tahan rontok dan tanaman padi berpostur tinggi dengan cara memotong tangkai tanaman padi.
  • Sabit: cara panen padi dapat dilakukan dengan cara potong atas, potong tengah, atau potong bawah tergantung cara perontokannya.
  • Pedal thresher : cara panen dengan potong bawah, umumnya dilakukan bila perontokannya dengan cara dibanting/digebot atau menggunakan pedal thresher.
  • Mesin perontok : panen padi dengan cara potong atas atau potong tengah bila dilakukan perontokannya menggunakan mesin perontok.

Pasca Panen Padi

Tahapan pascapanen meliputi perontokan, pengeringan, pembersihan, pengepakan, dan penyimpanan. Padi setelah dilakukan pemanenen segera dilakukan pengumpulan ke suatu tempat yang dekat dengan alat perontokan. Ditempat pengumpulan diberi alas dengan menggunakan terpal dengan tujuan untuk menekan kehilangan hasil.

Perontokan Padi

Perontokan padi merupakan tahapan pasca panen padi setelah pemotongan atau pemanenan. Tujuan tahapan ini adalah melepaskan bulir-bulir gabah dari malainya. Beberapa hal yang perlu dilakukan yaitu

  • Perontokan padi harus dilakukan sesegera mungkin setelah panen
  • Untuk menghindari banyaknya gabah yang tercecer sebaiknya digunakan alas, seperti plastik, anyaman bambu atau tikar.

Setelah padi dipanen gabah harus segera dirontokkan dari malainya. Tempat perontokan dapat dilakukan di lahan atau di halaman rumah. Perontokan dapat dilakukan dengan tenaga manusia atau dengan alat mesin. Perontokan padi merupakan salah satu tahapan pasca panen yang memberikan kontribusi cukup berarti bagi kehilangan hasil dan mutu padi secara keseluruhan. Besarnya kehilangan hasil selama perontokan dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain varietas padi, alat atau cara perontokan, alas perontokan, tempat perontokan, serta pelaku prontokan.

Perontokan padi dapat dilakukan secara manual maupun dengan mesin. Perontokan padi dapat dilakukan dengan berbagai cara sebagai berikut:

  • Cara perontokan dengan diinjak-injak/diiles. Tahapan-tahapan:
    1. Harus disediakan alas tikar, tempatkan potongan-potongan tangkai gabah diatasnya.
    2. Selanjutnya diinjek-injak (diiles) sehingga gabah-gabah terlepas dari tangkainya, tangkai kemudian dipisahkan dari gabah.
    Selain menggunakan tikar, dapat juga dibuat meja pengiles dengan ukuran panjang 2 meter, lebar 1 meter, bagian atasnya diberi lubang-lubang dan sisinya agak ditinggikan untuk menahan gabah berjatuhan ke bawah. Di bagian bawah meja perlu disiapkan tikar atau lembar anyaman bambu sebagai penampung gabah-gabah yang berjatuhan melalui lubang-lubang tadi. Potongan-potongan cabang padi ditempatkan di atas meja, lalu diinjak-injak atau diiles sehingga gabah terlepas dan jatuh kebawah melalui lubang-lubang meja, sehingga dapat dipisahkan antara gabah dengan jerami/batang padi.
  • Cara perontokan dengan dipukul(gedig) dan dibanting (gebot). Jika menggunakan cara ini, perlu diberi pengalas tikar atau lembar anyaman bambu, sekeliling alas perlu dikelilingi lembaran plastic atau tikar, sehingga pada waktu pembantingan atau dipukulkan, bulir-bulir gabah jarang yang akan terlempar keluar pembatas, sehingga kehilangan gabah dapat ditekan/dicegah.
  • Cara perontokan dengan menggunakan power tresher. Tresher dapat digerakkan dengan tenaga manusia dan digerakkan dengan tenaga listrik atau kombinasi keduanya. Cara ini dapat mengurangi kehilangan hasil, meningkatkan mutu gabah, dan tidak merusak gabah jika digunakan untuk benih. Setelah gabah dirontokan, perlu segera dilakukan pembersihan untuk menghilangkan benda asing, bulir hampa (kosong), dan kotoran lainnya sehingga dapat memperpanjang usia simpan, juga mempertinggi efisiensi pengolahan hasil, serta harga penjualan


Pembersihan Gabah

Pembersihan gabah merupakan proses pemisahan gabah dari benda asing serta kotoran lainnya yang akan merusak benih/gabah saat disimpan. Adapun tujuan pembersihan adalah sebagai berikut:

  • Memperkecil waktu dan biaya pengeringan.
  • Menghindari memburuknya gabah selama penyimpanan.
  • Menghindari bahan dari kerusakan conveying dan penggilingan.
  • Menghindari bahan dari penurunan grade.


Pengeringan Gabah

Pengeringan gabah bertujuan agar gabah tidak mudah rusak saat disimpan, rendaman giling dan mutu gabah tetap baik

Kegiatan pengeringan gabah merupakan salah satu kegiatan yang penting dalam usaha mempertahankan mutu gabah. Kadar air gabah yang baru dipanen berkisar antara 20 – 25 %, sehingga perlu diturunkan kadar airnya dengan cara pengeringan sampai gabah mencapai kadar air maksimum 14 %.

Untuk mencapai tujuan, pengeringan dilakukan segera setelah pemanenan dan perontokan untuk mencegah butir kuning. Pengeringan gabah umumnya dilakukan dengan memanfaatkan panas sinar matahari, tetapi jika panen terjadi musim hujan disarankan menggunakan alat pengering buatan seperti mesin pengering (drayer) atau silo pengering. Sebelum melakukan penjemuran dengan sinar matahari perlu diperhatikan bahwa tempat penjemuran harus bebas dari genangan air, serta terlindung dari gangguan unggas dan binatang lainnya. Faktor lain yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:

  1. Penjemuran dilakukan ditempat yang leluasa menerima sinar matahari, bebas dari genangan air, serta terlindung dari gangguan unggas dan binatang lainnya.
  2. Membuat lantai jemur dengan permukaan dari semen dan dibuat gelombang.
  3. Jika terjadi cuaca cerah penjemuran gabah sebaiknya dengan ketebalan 5 – 7 cm dan dibolak balik 1 – 2 jam sekali dengan menggunakan alat yang terbuat dari kayu atau bambu. Bila menggunakan alas jemur, jangan menggunakan terpal berbahan plastic karena dapat mempengaruhi peningkatan kadar air.
  4. Waktu penjemuran yang dianjurkan mulai pukul 08.00 pagi sampai jam 16.00.
  5. Jika pengeringan gabah dalam jumlah besar maka pada malam hari tetap dibiarkan diatas jemuran dengan cara digundukkan dan ditutupi dengan plastic, atau terpal untuk menghindari hujan dan embun. Jika gabah-gabah yang dikeringkan dalam jumlah kecil, sebaiknya gabah diusahakan dalam ruangan dengan memakai alas tikar atau plastik.

Dengan cara penjemuran seperti ini selama 2 – 3 hari pada cuaca baik akan diperoleh gabah dengan kadar air kurang lebih 14 %. Penjemuran yang terlalu lama dapat berakibat gabah banyak yang pecah saat penggilingan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan saat fase pengeringan yaitu:

  • Pengeringan dilakukan sesegera mungkin setelah perontokan
  • Tempat pengeringan harus memperoleh penyinaran matahari serta bebas dari gangguan ayam atau unggas lainnya.
  • Jika kondisi cuaca tidak memungkinkan untuk penjemuran, gabah dapat dipanaskan pada ruangan di dalam rumah. Untuk menggantikan panas dapat digunakan lampu petromaks atau sumber panas yang lain. Tebal hamparannya antara 2 – 3 cm dan pembalikan juga harus tetap dilakukan.


Penyimpanan Gabah

Tujuan penyimpanan gabah adalah untuk memperpanjang masa penyediaan bahan pangan.

Setelah penjemuran selesai, gabah dapat dimasukkan ke karung dan disimpan dalam ruangan jika volumenya tidak banyak. Namun jika volumenya besar gabah dapat dibiarkan di luar, tetapi harus ditumpuk dan ditutupi dengan plastic agar tidak terkena embun dan hujan.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam saat fase penyimpanan gabah yaitu:

  1. Gabah yang disimpan dengan kadar air maksimum 14 %, bersih dari kotoran, gabah hampa maksimal 3 %.
  2. Menggunakan wadah karung yang bersih dan bebas hama.
  3. Gudang atau lumbung penyimpanan diusahakan agar dibangun memanjang dari arah timur barat, untuk menghindari luasnya dinding yang terkena sinar matahari terlalu lama, sehingga gudang cukup sejuk. Gudang atau lumbung harus dibersihkan dari hama gudang dan disemprot dengan insektisida yang telah dianjurkan.
  4. Sirkulasi udara harus cukup baik guna menjaga kelembaban dan suhu yang seragam.
  5. Jika lantai gudang dibuat dari semen, harus menggunakan alas kayu, guna menghindari kontak langsung antara wadah gabah dengan lantai semen.
  6. Dinding gudang dibuat sedemikian rupa sehingga dapat menghindari hama bersembunyi.

Gabah yang akan disimpan harus memiliki kadar air maksimal 14 %. Gudang tempat penyimpanan sebaiknya berlantai semen, kering serta diberi alas kayu dengan ketinggian kira-kira 15 cm, agar karung tempat gabah tidak bersentuhan langsung dengan lantai, dan peredaran udara dibawah karung dapat berlangsung dengan baik. Gudang penyimpanan harus memiliki sirkulasi udara yang cukup, sedangkan gabah yang akan digunakan sebagai benih harus dipilih yang benar-benar baik. Penyimpanan dengan teknik yang baik dapat memperpanjang usia simpan dan mencegah kerusakan beras. Penyimpanan beras umumnya menggunakan pengemas yang berfungsi sebagai wadah untuk melindungi beras dari kontaminasi, dan mempermudah dalam pengangkutan. Penyimpanan dengan pengemas yang terbuat dari poli propilen dan polietilen densitas tinggi memperpanjang daya simpan beras dan lebih baik dibanding karung dan kantong plastik.